"Mengapa Aku Ingin Jadi Penulis"
Sejak kecil kita sudah
diajarkan untuk menulis oleh orang tua kita,walaupun tulisannya masih belum
jelas dan rapih tapi itu sudah cukup hebat bagi saya waktu itu. Saat duduk
dibangku sekolah menengah pertama saya mulai menyukai hal-hal yang berbau
kepenulisan walaupun waktu itu masih belum maksimal hasilnya. Dulu hal yang
paling classic waktu itu ketika menulis
cerita tentang liburan bersama keluarga ataupun teman, pergi ke rumah nenek
atau semacamnya, rasanya tema cerita itu terus ada sampai sekarang, apapun
ceritanya tentang pergi liburan, mungkin itu sudah ada sejak zaman nenek moyang
kita yang pandai menulis dan hal itu masih
bertahan sampai saat ini yang ilmunya seperti menempel pada penerus-penerusnya,
tapi cerita tentang liburan tidak selalu ada di tulisan, terkadang tulisan
campur 'curhat' mengenai kisah inspiratif pun mengisi lembaran kertas
berlatarbelakang tugas sekolah tersebut.
Sesuatu yang membuat saya suka menulis adalah karena terpaksa. Jadi singkat cerita dulu saat SMP saya mempunyai guru pelajaran bahasa Indonesia yang kalem tapi seram,adem tapi tegas, orangnya sedikit hitam dan mempunyai kumis yang tebal. Setiap minggu dituntut untuk membuat cerita bebas sebanyak 2 lembar kertas portofolio, padahal saat itu saya jarang sekali membuat tulisan dalam bentuk cerita tapi apa boleh buat agar tidak dimarahi dan dihukum oleh guru yang ‘epic’ tersebut jadi terpaksa saya mengerjakan tugas itu setiap minggunya. Setelah berbulan-bulan dan bertahun-tahum lamanya, tapi ternyata dari sana saya banyak mendapat pelajaran, dari yang awalnya terpaksa jadi biasa dan jadi minat dengan hal yang dekat dengan kepenulisan. Dan sampai sekarang saya masih senang menulis cerita atau semacamnya walaupun kadang masih pasang surut, mungkin karena belum ada teman yang sejalur pemikirannya untuk mendorong saya untuk tetap menulis.
Sesuatu yang membuat saya suka menulis adalah karena terpaksa. Jadi singkat cerita dulu saat SMP saya mempunyai guru pelajaran bahasa Indonesia yang kalem tapi seram,adem tapi tegas, orangnya sedikit hitam dan mempunyai kumis yang tebal. Setiap minggu dituntut untuk membuat cerita bebas sebanyak 2 lembar kertas portofolio, padahal saat itu saya jarang sekali membuat tulisan dalam bentuk cerita tapi apa boleh buat agar tidak dimarahi dan dihukum oleh guru yang ‘epic’ tersebut jadi terpaksa saya mengerjakan tugas itu setiap minggunya. Setelah berbulan-bulan dan bertahun-tahum lamanya, tapi ternyata dari sana saya banyak mendapat pelajaran, dari yang awalnya terpaksa jadi biasa dan jadi minat dengan hal yang dekat dengan kepenulisan. Dan sampai sekarang saya masih senang menulis cerita atau semacamnya walaupun kadang masih pasang surut, mungkin karena belum ada teman yang sejalur pemikirannya untuk mendorong saya untuk tetap menulis.
Biasanya yang instan dan tidak perlu berpikir keras
adalah membuat cerita singkat di media sosial, alurnya tidak jelas, temanya
campur aduk, tapi cukup puas sudah menulis ketika itu. Tapi sebenarnya yang
terpenting adalah bagaimana tulisan itu dihasilkan dari hati kita supaya orang
yang membacanya itu nyaman dan menikmati karya kita. Jadi saat ada pertanyaan “mengapa
aku ingin jadi penulis?” mungkin akan saya
jawab, “karena saya nyaman dan menyukai hal itu serta ingin memberikan dampak positif yang besar dari tulisan yang saya buat”. Perjalanan di bidang kepenulisan terus berlanjut sampai saya mahasiswa sekarang
ini, saya tergabung di dunia broadcasting sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa radio
kampus yang disana dilatih untuk menulis script
siaran, berita, dan lain sebagainya. Selalu ada yang membuat ini menyenangkan selama tujuan kita jelas, selalu mencari
pengalaman dan terus belajar.
"Jangan lupa pahami EYD!" kata pak Doni. Membekas banget omongannya; ketegasannya; juga tentang pernyataan terhadap keberbahasaan kita dalam berbahasa. Paling males kalo udah debat sama dia, setiap kata dan kalimat mesti dipilih dengan cermat.
BalasHapusSepertinya kita sama tong -gegara dia. Hahaha.
walaupun agak galak tapi tetep seneng gw sama dia,jarang sekarang ada guru kaya dia haha
BalasHapusGood teacher!