Hidup Di Theater




     Inilah theater, dimana orang-orang memiliki perannya masing-masing untuk bertindak sebagai tokoh sesuai dengan cerita yang dibuat. Kita hanya berperan sesuai tokoh yang kita perankan, namun bukan dirinya yang aslilah yang berperan. Iya, tidak sesuai aslinya. Kadang kita tertipu dengan sebuah peran yang dimainkan orang lain, bermain sesuai perannya yang menarik namun tidak seperti aslinya yang jauh dari cukup dari akal pikirannya dan sikapnya.

     Apa hebatnya bermain di theater jika diri yang aslinya tidak sebaik seperti aslinya, tentu mengecewakan. Ketika lampu dimatikan saat itulah peran-mu berakhir dan kembali memainkan peran aslimu di kehidupan yang riil, yang tidak ada topeng dibalik itu semua. Kembali duduk di kursi kayu dan menikmati secangkir kopi hangat dengan sedikit trik matahari di pagi hari. Segar rasanya jika bersyukur.

     Penonton terkesima dengan peran yang sesaat ditampilkan, namun belum tentu terkesima jika bertemu di kehidupan nyata yang jelas-jelas banyak menghabiskan waktu di kehidupan nyatanya. Yah itulah, lelah mengintai mereka yang enggan menunjukkan kabar aslinya sesuai dengan dirinya sendiri, mereka membohongi orang-orang, dan juga dirinya sendiri. Pasti ada waktunya untuk berpisah dan ada waktu untuk bertemu, sesuai dengan kadar yang diberikan Tuhan kepada makhluknya. 

     Secara tidak sadar lama-lama orang itu pun mengecewakan dirinya sendiri, apa yang harus dihargai ketika orang mengatakan yang bukan sebenarnya? Mereka yang mendengar, mempercayai, dan meyakini setiap perkataan dan sikapnya, terasa pait namun manis ketika di theater. Peranmu sebagai apa? Di mana kamu banyak menghabiskan waktu? Di Theater yang sesaat, ataukah di dunia yang nyata? *Lampu pun dimatikan.. dan tirai hitam ditutup..   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tracking Terjal

Trend Make You Crisis

Sisi Yang Lain